Ichadiass
Ichadiass
  • Home
  • Goresan Sebelah Mata
  • Jejak Cupid
  • Kilas Balik dalam Langkah
  • Sitemap
  • Contact Us
Pinterest

Wajah-wajah penuh kemenangan. Di tengah hiruk piruk kegembiraan, satu hati terpojok di ujung jalan. Kejayaan bertengger di atas tangannya, namun dalam tatapan yang hening, ia berulang kali berteman kematian. Tak ada kehidupan di wajahnya. Orang yang tertawa telah merampasnya. Kini ia hidup dalam wajah yang mati.

Orang itu menelan kehidupan di atas kehidupan. Air mata adalah sumber penghidupan. Harapan tanpa dunia adalah lahan kehidupan. Di tengah kesibukan langkah yang berlalu, ia menari mengangkat tangan, memeluk setiap langkah yang tersesat. Namun pelukannya bukanlah kompas kehidupan, melainkan pangkuan ajal. Sebuah akhir tuk menyambut penderitaan baru.

 ‘Selamat’ ia lagukan tawa kemenganan untuk kemunduran. Ia ambil sepatu-sepatu sebagai pengganti peluhnya. Ia menuntut tepukan pada bahunya, pun tangis haru untuk dunia huru hara yang ia bangun. Dan ia tersenyum sedang di bawah kakinya adalah lautan langkah yang merindu  pulang. Langkah-langkah kelaparan yang memohon sesuap sinar, namun terlanjur hilang dari napas kehidupan.  

Ia ada di segala arah mata memandang. Ia tak menyisakan sedikit pun waktu jika bukan untuk tangannya. Napasnya adalah pusat semesta, begitu pikirnya. Dan segala langkah yang masuk ke dalam orbitnya harus menjadi punggung kehidupannya. Ia menuntut kepatuhan, menghisap napas mereka, tanpa menyisakan apa pun kecuali kehampaan.

Entah sel-sel apa yang sudah merasuki pandangannya, jauh dalam napasnya ia hanyalah langkah tak bersepatu. Ia adalah napas tanpa hembusan. Dan ia adalah dunia yang menutup diri dari mentari. Ia terlalu lemah untuk sekedar membuka wajahnya. Sehingga tak heran jika ia mencuri wajah semesta.

Namun tangannya telah berulang kali menyulap kehidupan menjadi kematian. Menyisakan langkah-langkah yang hidup dalam wajah yang mati.

Entahlah, aku tak punya nama untuk perasaan ini. Aku tak menunggu, tak menanti, apalagi berharap. Ini adalah sebuah bingkai tanpa foto, pintu tanpa rumah, pun kasih tanpa kisah. 

Aku sudah sekata dengan diriku, bahwa kita bisa berkasih tanpa kasih, berkisah tanpa kisah, dan berkata tanpa kata. Ini bagian dari kisah kasih tak bertuan. 

Kau ambil andil dalam perjalananku, sebagai objek, bukan subjek. Aku melihatmu sebagai cerita dalam sekian langkah. Dan kau punya segunung cerita yang menggambarkan langkahku. 

Namun, di tengah kaki yang melangkah, aku menyadari bahwa tidak semua cerita harus berakhir dalam sebuah ucapan. Ada kisah-kisah yang lebih indah kala dibiarkan bernapas di dalam keheningan memori. 

Sehingga, segala cerita tentangmu aku simpan dengan rapat agar ia tak menjelma suara. Sebab sekali ia terucap, aku yakin ia kan berkelana dan kehilangan jati dirinya. Maka cukup cerita itu terlelap, biar dunia cerita itu tetap terjaga dalam selimut malam. 

Di tengah keheningan malam, hatiku tergelitik oleh pertanyaan yang tiba-tiba muncul, 'mungkinkah selama ini aku bukan sekedar menyembunyikan cerita, melainkan perasaan yang bersembunyi dalam wajah cerita?'

Pertanyaan ini membuka mataku bahwa selama ini aku begitu sibuk menyangkal segala bentuk perasaan hingga membuatku merias roman perasaan dengan cerita. Perlahan-lahan aku mulai menyadari betapa aku membenci segala hal yang bergandeng dengan perasaan. Dan itu membuatku sulit untuk mengakui setiap jejak rasa yang menggerogotiku. 

Andai aku sedikit berbaik hati pada perasaan, langkahku pasti sedikit lebih ringan, sebab Tuhan menghadirkan rasa bukan untuk disembunyikan, tetapi untuk kita rangkul. Merangkul rasa bukan berarti harus diumbar atau dipaksakan, tetapi cukup untuk diterima.

Lagi pula menyangkal atau menyembunyikan hanya membuat perasaan itu semakin meronta, sehingga aku lebih memilih untuk berdamai, berteman, dan merangkul perasaan tersebut. Sebab ia adalah bagian dari cerita kehidupanku.

Dan langkah ini membawaku pada titik kesadaran bahwa hidup tak selalu tentang apa yang kita mau, tapi apa yang Tuhan inginkan. Dan aku yakin bahwa setiap pilihan Tuhan adalah pilihan terbaik. Hal ini meninggalkan kesan bahwa tak semua pertanyaan butuh jawaban, begitu juga dengan rasa, bahwa rasa hadir cukup untuk dirasakan tanpa harus dimiliki. 

Lagi-lagi ini menyadarkan aku bahwa Tuhan tidak meminta kita untuk mencari arti di setiap langkah kehidupan, tapi cukup percaya bahwa Tuhan selalu memiliki makna dalam setiap takdir. Sebab, di ujung langkah, ini bukan tentang menutup kemungkinan, tetapi lebih untuk menutup kemungkaran. 

Tak perlu terburu-buru, segala sesuatu sudah ada waktunya. Tak perlu memaksa, sebab itu hanya membawa lelah. Nikmati setiap suguhan yang Tuhan suguhkan. Tak perlu melihat sekeliling yang membuat kita masuk dalam jalur perlombaan. Tuhan menghadirkan kehidupan ini bukan untuk ajang perlombaan. Melainkan sebuah jalan muhasabah untuk menjadi lebih baik di setiap langkah yang kita toreh. 

Kini aku tak lagi merasa harus mengejar jawaban atau membuktikan sesuatu. Sebab perjalanan ini bukan tentang mencapai garis akhir, tetapi tentang memahami makna setiap langkah. Dan akhirnya, aku menyadari bahwa tak semua perasaan butuh nama, seperti tak semua pertanyaan butuh jawaban. 

Sekolah alam di Tli'u oleh komunitas NTT Peduli Cerdas 

Kalimat itu telah kehilangan napasnya, namun satu tetes darah menetes masuk di dalam raga kalimat itu. 


Apakah satu tetes darah cukup untuk membangkitkan raga yang telah mati? Padahal raga yang telah mati sejatinya masih memiliki darah yang bergejolak mencari oksigen. Hanya karena satu tetes darah  jatuh dari raga yang hidup, itu tak serta merta akan memberi hidup pula. Raga mati sebab ketiadaan napas, bukan darah. 


Raga kalimat itu, walau telah gugur, ia  masih memiliki berjuta sel darah yang merindu pada oksigen, namun apa daya, satu tetes darah tak cukup jika bukan datang dari tetesan darah Tuhan. Tuhan adalah segalanya. Segala sesuatu untuk segala yang tunggal dan jamak . Yang nampak dan tak nampak. Tuhan satu untuk berjuta napas dan darah. Dan Tuhan ada untuk segala ketiadaan. 


Tuhan adalah kunci segala jalan. Kunci segala raga yang kehilangan darah dan napas. Tuhan adalah setiap kalimat yang hidup, pun kalimat yang memberi hidup. Sebab itu, bagiku tak ada jalan lain selain melihat pada Tuhan. 


Satu tetes darah boleh saja merayu pada kehidupan yang layu. Boleh saja satu tetes darah menyalakan lampu harapan. Pun boleh saja berlagak layaknya pemberi kehidupan. Namun, ia tak bisa berkelak ketika Tuhan bersabda di atas nama takdir. Darah hanyalah darah. Ia menyokong hidup namun tak mendatangkan kehidupan. Ia bukan asal mula kehidupan, sebab hanya Tuhan satu-satunya pemilik awal dan akhir. 


Lantas, siapa dirimu yang berlagak memberi harapan selayak kau adalah  sumber harapan? Siapa dirimu yang menebar janji selayak kau pemilik catatan takdir kehidupan?


Jangan menutup mata. Kita boleh saja berencana, merancang setiap jalan kehidupan, membuka tangan untuk peminta yang berkeringat. Namun, jangan angkuh hingga lupa siapa dirimu. Kita berencana sedang Tuhan tertawa melihat keangkuhan rencana yang kita bangun. Kita boleh berlari membangun segala rencana, namun jangan lupakan Tuhan, sebab Ia pemilik gravitasi kehidupan.

 

Photo by Hendri Prestesp

Aku akan menanti hingga cerita kehilangan cerita.


Jati dirinya hilang oleh narasi kosong.

Jiwanya gugur oleh penokohan yang berputar.


Dan cerita kehilangan cerita. 


Hidup menjadi lumpuh. Kemampuan kehilangan empu. Harga diri tinggal angka.

Esok tak lagi ada wajah.


Tak lagi perlu menanti

hari,

harapan,

dan panjatan.


Sebab cerita telah kehilangan cerita. 


Aku bukan lagi aku.


Aku di dalam cerita adalah usai. Dan aku di luar cerita adalah upaya kosong.


Aku tinggal seonggok daging yang berjalan. Tak berperaisaan, tak berperiadilan, tak berpericerita. 


Haruskah kita hidup dengan cerita? Atau cerita yang hidup bersama kita?


Sebentar.

Biar aku ulangi.

Aku

ataukah kita? 


Cerita kehilangan cerita.

Pun wajah baru adalah usai.


Akan aku lagukan sisa cerita yang masih mengenal dirinya.


Tentang aku sebagai kita.

Tentang narasi dan penokohan.

Dan hari-hari yang tak akan pernah tiba.

 

Photo by Andrea Ucini on Behance

Jam berputar, berderu, 'waktu telah sampai di arah pukul 14 : 3.' Dunia membeku, kabut turun menyelimuti ruang waktu, membuka pintu dunia nol untuk langkah napas harapan. 

Waktu kehilangan jiwa, menyisakan raga waktu yang terkapar di arah pukul 14 : 3. Di sana, pada angka yang membeku, aku turut terjerat di dalamnya, bersama potongan-potongan kenangan tak bertuan.  

Terperangkap di dalam waktu yang berkalang tanah, udara adalah kegelapan, siang tinggal nama. Sepanjang mata memandang adalah malam yang tak berteman bintang dan rembulan. 

Aku mencoba bangkit dan membuang pandang jauh ke dalam malam, berusaha tuk memeluk kegelapan. Tiba-tiba sececah cahaya menusuk sudut hatiku. Napasku terbuka, mataku menyipit, mencoba mengenali malam dan kegelapan ini. 

Mendadak bayanganmu meledak di kedua pupilku, menyisakan debu kabut yang menusuk kesadaranku. Apakah kita masih ada? Aku melihatmu, mencoba bertumpu di antara celah kabut yang memenuhi penglihatanku. 

Adakah kita? Kita. Ya, kita, adalah aku dan kenangan. Bukan lagi aku dan dirimu. Ingin sekali aku menjatuhkan hukuman mati pada realita yang kuterima. Aku enggan memupuk hidup di atas piring fakta yang menyesakkan. Aku menginginkan oasisku. 

Kendatipun itu adalah fana, itu bukanlah pasal bagiku. Aku bahkan telah kehilangan bayanganku. Tak ada lagi yang kutakutkan, melainkan suguhan realita yang harus kulahap; tentang kita, adalah aku dan kenangan. Bukan lagi aku dan dirimu. 

Aku berlari di atas dunia yang beku, di dalam waktu yang mati. Berteriak pada semesta yang membisu. Menyerahkan semua emosiku, sehingga kau dapat kembali masuk ke dalam diriku; adalah kita. 

Di dalam siang, satu langkahku terbakar oleh sengatan terik. Di dalam malam, satu lagi langkahku membeku, diam tergeletak di atas taman kenangan. Kini aku hilang langkah. 

Jiwa yang haus kini harus meneguk gelas harapan yang penuh kebohongan. Kemana aku harus menatap?! sedang mataku telah melepaskan tatapannya untuk waktu yang telah mati. Aku tak punya langkah. Bahkan napasku kehilangan bayangannya. 

Kehidupan apa yang sebenarnya tengah aku lakoni? Aku hanya berusaha mendapatkan kepingan hidupku yang hilang. Namun, mengapa aku malah kehilangan kepingan lain dari hidupku? 

Apakah ini yang sering orang-orang katakan tentang berjudi dengan semesta? Kata orang, Tuhan tak bermain dadu, tapi mengapa napasku seakan-akan dikendalikan oleh angka dadu? 

Namun, kata mereka Tuhan tak bermain dadu?! Lantas, siapa gerangan yang tengah memainkan dadu di dalam hidupku?

Photo by SgtSalt on Flickr

Ini adalah baris akhir dalam langkah cerita kita. Mari sama-sama kita lambaikan sapu tangan. Usap matamu. Baris kertas dalam kisah kita telah usai. Mari kita ukir tanda titik di akhir langkah ini, sebelum kita saling melepas genggaman janji yang tak pernah mendapat restu Langit. 

Tak perlu merasa buruk. Tak perlu ada kesedihan. Tak perlu ada penyesalan. Tak perlu ada kekhawatiran. Kita hanya mengakhiri langkah dalam satu kisah kehidupan. Masih ada kisah-kisah lain yang menanti pijakan langkah kita. 

Kita hanya berhenti pada satu kisah. Tak ada yang tahu, mungkin saja, kita bisa kembali bertemu dalam lembaran kisah yang baru. Untuk sekarang, kita hanya perlu terus melangkah, mengukir kisah-kisah baru  pada lembaran baru yang menanti. 

Mari kita terus melangkah. Melangkah membuka tabir cerita yang menanti. Kita tak pernah tahu cerita apa yang tengah menunggu kita di depan sana. 

Tak perlu merasa buruk. Tak perlu ada kesedihan. Tak perlu ada penyesalan. Tak perlu ada kekhawatiran. Perpisahan adalah hal yang biasa. Kau tahu bukan, bahwa pertemuan selalu datang bersama perpisahan?  

Pertemuan dan perpisahan adalah dua hal yang tak bisa kita pisahkan. Namun, jangan khawatir, sebab perpisahan pun tak pernah datang sendirian. Perpisahan selalu datang bersama suatu pertemuan baru. Entah seperti apa wajah pertemuan itu, yang perlu kita lakukan hanyalah melangkah dan melangkah, hingga kita dapat membuka tirai dari wajah baru pertemuan tersebut. 

Ya, itu benar, bahwa aku selalu menenangkanmu, mengatakan bawah perpisahan ini bukanlah hal yang patut kita tangisi. Hal tersebut bukan karena aku bahagia atas perpisahan ini. Tidak, tak seperti itu. Sebenarnya, maksudku, aku hanya ingin agar kita dapat melewati hari terakhir ini dengan senyum dan tawa kebahagiaan. Sehingga, tak akan ada penyesalan di hari esok. Dan kelak, kala kita saling mengenang, maka segalanya hanya tentang kenangan indah yang membawa senyum kebahagiaan. 

Aku tak ingin mengukir garis akhir dalam lembaran cerita kita dengan kesedihan dan kesakitan. Sebab, di hari esok, kala kita saling mengenang, itu hanya akan membawa kesedihan dan kesakitan pula. Apa yang kita lakukan hari ini tentunya akan memberi hasil di kemudian hari, bukan? 

Maka, mari kita usap mata kita. Mari kita saling memberi sapu tangan terindah. Saling melambaikan sapu tangan kita dengan lambaian kebahagiaan. 



Photo by Nicolas Vaudour on Behance

Hasrat adalah hitam dan putih. Hasrat adalah kemajuan dan kemunduran. Hasrat ada di kiri dan kanan sepatu yang kita kenakan. Hasrat yang melangkah ataukah kaki yang melangkah? Semua ada di dalam pilihan. 

Di setiap tarikan napas, terselip hitam dan putih, hasrat. Di setiap hembusan napas, terselip wajah-wajah hasrat, abu-abu. Meninggalkan bekas penyesalan atau tidak, semua itu ada di dalam pilihan. 

Seperti apakah wajah hasrat? Tangan punya kendali atas bentuk wajah hasrat. Indah ataukah buruk rupa, semua itu ada di dalam pilihan. Seperti apakah darah dari hasrat? Hati punya kendali atas itu. Dan semua itu ada di dalam pilihan. 

Mengarah pada pilihan, taukah kita apa itu pilihan? Sadarkah kita apa itu pilihan? Sudahkah kita menggunakan pilihan itu? Atas dasar sadar ataukah tanpa sadar? Atas pertimbangan pikiran dan hati ataukah tanpa kedua itu? Diri kita ataukah orang lain? 

Pikiran di dalam pikiran adalah hal yang sederhana. Namun, pikiran di dalam realita adalah prahara. Sebab, kita bukan satu-satunya yang memiliki tangan. 

Bisakah kita bernapas dengan kedua tangan kita? Jika tidak, tangan mana yang harus kita pilih? Adakah napas yang tersembunyi di balik tangan itu? 

Kita membuat pilihan. Hasrat turut ikut memberi bisikan. Namun, wajah hasrat mana yang harus kita lihat? Semua itu ada di dalam pilihan. Namun, siapakah yang membuat pilihan tersebut? 

Apapun bentuk wajahnya, hitam atau putih, dan segala warna pilihan, hasrat selalu meninggalkan bingkisan untuk sepatu-sepatu yang melangkah maupun tak melangkah. Hasrat selalu meninggalkan bingkisan untuk perasaan-perasaan yang menanti ataupun tidak. Dan hasrat tahu apa yang ia berikan. Hitam atau putih, elok atau buruk rupa, semua itu kembali pada pilihan yang ia terima. 

 

Aku menulis ini dengan harap kau kan menemukan jiwa yang kuselipkan di dalam tulisan ini. 

Aku berjumpa dengannya di dalam siang. Di dalam malam, aku mendapati kupu-kupu memenuhi ruang perutku. Dan di dalam pagi, siang dan malam mendekap di atas lembaran baru tanpa jumpa dan sapa. 

Masihkah? 

Ia telah mengambil waktuku. Ia menjadi pagi, siang, dan malam. Aku tak punya jalan untuk melarikan diri. Sebenarnya, aku pun belum bersungguh-sungguh untuk melarikan diri. Ia sudah mengambil waktuku, bukankah aku harus mendapatkan waktuku kembali?

Masihkah? 

Pada rekaman jejak lalu, kala indra tak lagi mendapat rasa, maka langkah kan mengambil garis awal. Namun, segalanya telah berbalik dalam garis ini. Padahal waktu telah menua, cukup berumur untuk membuatku melangkah mengambil titik awal. Sayang, ia malah menjamur di dalam darahku. Kilas cerita satu persatu ikut berdenyut di dalam nadiku. Dan ini sungguh membuatku kehilangan akal. 

Masihkah? 

Pada pagi dan malam, aku terbuang di dalam kegelisahan. Ia menjamur di dalam darahku. Telah menjamur. Itu tak baik. Tekad  secara tiba-tiba memacu saraf-saraf yang sekarat. Aku membuka rute baru. Mencuci bersih darahku. Menyuapi pikiran dengan teori-teori yang kurancang. 

Masihkah? 

Tentu saja. Rute baru, teori-teori, dan apapun itu, segalanya membawaku kembali pada titik awal. Ia tetap menjadi pagi, siang, dan malam. Sedang aku semakin terbuang jauh dalam kegelisahan. 

Masihkah? 

Hari-hari berlalu lalang di atas bahuku. Napas semakin berat. Realita nyaris kehilangan wajah. Sayang, aku masih belum mau mengambil resiko. Menurutku ini terlalu riskan. Kata seorang perkata, 'Hidup tak hanya soal satu cerita,' terlalu banyak benang merah yang dapat mengelabui mata. 

Masihkah? 

Tentu saja aku masih di dalam ruang waktu yang sama. Tapi aku punya catatan lalu yang sulit untuk aku lupakan. Bahwa aku pernah melangkah, menolak tuk menonton tangan-tangan yang lupa akan jiwanya. Aku pernah melangkah melepaskan egoku. Aku pernah melangkah dengan kebebasan. Langkah yang aku syukuri, sebab kini langkah lalu itu menjadi rambu kehidupanku. 

Masihkah? 

Aku bertanya padamu. Apakah kau merasakan denyut yang menjalar di dalam pertanyaan itu? 

Masihkah?  

Aku masih memberikan napas di dalam pagi, siang, dan malam. Adakah denyut di dalam nadimu?







 

Jplenio/Pixabay

Aku menatap pada langit sore. Di sana, di ufuk barat aku melihatmu yang pergi bersama mentari meninggalkan bekas warna yang terekam di dalam kenangan. Kehangatan warna yang tertinggal seakan menjadi selimut dalam malam yang hadir membawa dingin, pun hembusan kenangan yang membeku. 

Aku melihat menembus langit malam. Berusaha menemukanmu yang mungkin bersembunyi di antara bintang-bintang yang bersinar. Di dalam pelukan malam, bersama melodi kesunyian yang menari, aku merasakan kehadiranmu. Kau hadir di tengah ruang hati, menyanyikan lagu-lagu kenangan yang merindu.  

Sejujurnya, setiap tarikan dan hembusan napasku adalah dirimu. Kau seakan berubah menjadi atmosfer dalam semestaku. Di setiap langkah kakiku, aku menanam pohon harapan; Mungkin di suatu langkah nanti adalah pintu untuk kehadiran sosokmu. 

Apakah kau pun menantikan langkah itu? Aku bertanya-tanya pada malam, mungkinkah aku satu satunya yang menjadi buta? Entahlah, satu-satunya yang kulihat adalah aku menikmati perjalanan ini. Aku bertanya-tanya seperti apakah wajah akhir dari pohon harapan yang kupupuk. 

Masih di dalam malam. Aku menatap dalam pada mataku di depan cermin. Di dalam mataku, aku masih menemukan sisa-sisa tatapanmu. Tatapan lembut yang menyisir awan keraguan di wajahku. Bahkan hingga kini saat ragamu tak lagi kutemukan, segalanya masih sama. Tak ada satupun keraguan maupun ketakutan yang berhasil mengisi kekosonganmu. 

 


Tangan itu telah hancur. Wajah-wajah berbisik bahwa akulah sang dalang. Sedang ia yang memiliki tangan menghembuskan napas hampa, dan sedetik lagi, mungkin ia kan tiba pada raga hamba tanpa tuan. 

Tak perlulah mengangkat karma dalam kisah yang menjaga napas namun menguapkan raga. Adalah kisah tanpa tokoh. Kisah yang dicampakkan alur. Pula tanpa setting.  

Kisah itu adalah dunia dalam percobaan. Dan karma, bawalah ia pergi pada tangan Tuhan. Jiwa kita terlampau kotor untuk menurunkan kesucian karma. 

Kata-kata terbang menampar hati yang menginginkan. Kupu-kupu kehilangan kesuciannya. Kata mereka, akulah sang dalang. Apa sebab? 

Wajah-wajah kembali berbisik, 'Ia kan menua ditelan gelombang,' ide yang liar. Wajah tak seharusnya berbisik. Kuasa suara mereka telah menelan tekad. Sungguh, hidup yang nekad. 

Adakah yang dapat menemukan alur dalam kisah ini? Atau kisah itu? Entahlah, kita hanya hidup dalam satu kisah yang berenang di dalam wadah. Apa kukata sebelumnya? Langit tak punya warna. Terimakasih kepada pembiasan. Aku pun tak punya warna. Terimakasih kepada pembiasan. Dan pada yang lain? Aku tak punya bisikan, sebab hidup kita adalah apa yang ada pada tangan kita dan perjalanan di dalam kepala kita. Mungkinkah? 

Tangan itu telah hancur. Perasaanku turut hancur dan gelombang pasang membuka dunia baru untuk kisah-kisah yang berduka. Kehilangan tokoh, kehilangan alur, tak punya setting. Gelombang pasang membuka pintu dunia penciptaan. Biarkan kupu-kupu bertebaran di manapun mereka inginkan. Dan tembakan-tembakan tanpa tebakan. 

Ini adalah kisah serius. Aku mengemasnya dengan jiwaku. Maka bacalah dengan jiwamu. Pun ini adalah bagian dari mimpiku. Mungkin pula mimpi-mimpi kalian yang tak sanggup untuk kalian buka.

Pada malam. Dalam gelap. Di bawah binar bintang. Di sana, ada aku dan mimpi. 

Sebuah kisah tanpa kejelasan alur. Sebab itu adalah mimpi. Maka buatlah alur itu. Sesuka hatimu. Bukan sesuka tuan-tuan. 

 

Tuan dan Tuhan 

Di ujung perempatan jalan, lampu merah memenuhi tiap sisi. Aku bisa mengambil jalan manapun yang kuinginkan. Namun, apakah hanya aku? 

Lampu hijau menunjukkan sinarnya, kali ini tak hanya aku. Jalan penuh oleh kesibukan orang-orang yang mengejar tuan-tuan yang tanpa sadar mereka tuankan. Dan aku melangkah di antar tuan-tuan itu. Namun, apakah hanya aku? 

Orang-orang itu, mereka punya banyak tuan. Begitu pula aku, bukan? Dan kau pula, bukan?

Tuan-tuan itu, mereka adalah tujuan yang orang-orang pilih. Begitu pula aku, pun dirimu, bukan? Tuan-tuan itu, mereka adalah hasrat, yang tersembunyi ataupun nampak. Tuan-tuan itu adalah kesenangan dan kebahagiaan. Dan di sini baik dan buruk adalah abu-abu. 

Begitu pula pada tuan dan Tuhan. Tuan dan Tuhan nyaris hidup dalam batas abu-abu. Dalam bukti tingkah laku dan pikiran tuan adalah Tuhan. Dalam bukti sosok, Tuhan adalah Tuhan, satu tanpa tandingan. Sedang tuan punya banyak ragam, tandingan tak jadi masalah. 

Dalam masa ini, orang-orang akan melemparkan sumpah serapah ketika ada yang berkata ia punya dua tuhan. Namun, di luar batas sadar, mereka yang punya sumpah serapah itu pun punya begitu banyak tuhan. Yaitu tuan-tuan itu. Kesenangan yang mereka sembah, tujuan dan pencapaian yang mereka sucikan, hasrat yang mereka junjung tinggi, begitu pula nafsu yang menjadi kiblat kehidupan mereka. 

Mereka, apakah benar hanya mereka? Mungkin aku pun bagian dari mereka, bukan? Begitu pula dirimu, bukan? 


 

Image by 愚木混株 Cdd20/Pixabay

Segalanya telah usai. Aku mendapati bayangan telah kembali tepat pada titik 11:11 jam yang berputar. Gelap turun bersama dingin, itu hanya baju semesta. Tak ada kemalangan di dalam gelap dan dingin. Terang membilas kegelapan. Itu pun tiada beda, tak ada kehancuran di dalamnya. Segalanya hanya tentang di mana kita menempatkan fokus pandangan dan itu kan jadi hidup yang kita genggam. 

Akhir dari pertemuan adalah perpisahan, itu kata semesta. Perpisahan adalah akhir cerita dalam satu bagian kehidupan, bukan akhir kehidupan. Tak perlu ada ratapan. Pada jejak lalu kami mengisi waktu dengan kenangan terbaik. Itu luar biasa. Dan itu menjadi perpisahan yang hangat. 

Dalam perpisahan tak ada dua subjek yang terbagi pada sisi protagonis dan antagonis. Itu kataku, sebab aku berangkat dari jejak-jejak yang berbicara, juga fokus pandangan yang kugenggam. Dengan begitu segalanya jadi menyenangkan. Tak ada kepahitan, duka, dan luka. Jika ada kebaikan mengapa harus melihat pada keburukan? 

Ya, ini hanyalah pandangan sebelah mata. Pandangan yang telah membuka kedua mataku pada sisi lain dunia yang belum pernah kujumpai, 11:11. Jika ada kedamaian mengapa harus memilih pada keriuhan? Hidup itu pilihan, bukan? Maka pilihlah bagaimana kalian kan menjalani kehidupan ini. Lihatlah pada arah mana kalian ingin melihat. Entah kebaikan atau keburukan, kedamaian atau hiruk-pikuk, semua ada dalam pilihan. Entah kita yang memilih atau Tuhan yang memilih. 

 


Malam jatuh. Bulan terbuka dalam gelap, menyoroti sosok yang menangis di bawah langit. Ataukah tertawa? Ia dalam pelukan waktu. Ia punya dua sisi wajah, ia yang menangis, pun ia yang tertawa. 

Siapa yang tahu soal ia, yang menangis dan tertawa di bawah langit dalam sorotan roman rembulan, pun pelukan waktu. Ia satu tanpa kesendirian. Pun sendiri dalam kesatuan. Ia sepertinya telah melangkah begitu jauh. 

Menatap apa yang tak ingin ditatap, mengucap apa yang tak ingin terucap, melangkah pada apa yang tak ingin dilangkahi. Kini ia bersama semesta. Tiada lagi sayap-sayap yang menghakimi. 

Itu malang. Namun, ia berkata alangkah menarik ketika tiada malang yang mengambil alih arti hidup. Semua hanya tentang di mana kita menempatkan pandangan. Dan itu akan menjadi riwayat manis. 

Sebab kita hidup di bawah titah waktu. Jadi, sering kulihat ia pergi membuang senyuman pada waktu. Kaki kita terikat pada kaki waktu. Jadi, sering kulihat ia melempar sesembahan di kaki waktu. Oh waktu yang suci, ia pun terhina. Sang waktu. 

Orang-orang mengumpat, sedang singgasana waktu menatap. Sungguh, berdoalah untuk napasmu. Ia tak sendirian di dalam titah waktu. Jaga tawamu. Waktu pun punya cara tuk mengumpat dengan anggun. 

Kurasa dalam sesaat riwayat ini kan temu usai. Kini malam telah bangun. Sang pertiwi telah menyibakan selimut menyapa semesta. Tawa dan tangis telah luput dalam suara yang melagukan riwayat ini. Jadi, kulihat ia yang beriman pelita tengah melangkah melagukan umpatan manis. 

 


Di batas sana, di tengah gelap. Di batas sana, di tengah langit. Jejak batas malam dan rembulan yang menatap padaku. Kutaksir mereka tahu lubuk hatiku. 

Aku merindukan kota-kota semesta di atas sana. Namun, ada batas yang tak bisa kulewati. Padahal aku adalah rembulan di tanah napasku. Aku sang rembulan. 

Di batas itu kisah masih berkasih, dan aku masih sang rembulan di batas malam. Oh di manakah kisah kasih itu? Bintang-bintang mengatakan kisah masih berkasih, tapi entah di mana ia berkasih. Sedang aku tersisih. Mungkinkah? Aku sang rembulan.

Malam telah membangunkan kisah-kisah indah. Tentang mimpi dan harapan. Malam telah membangunkanku, tuk hidup dalam kisahnya. Tentang cita dan cinta. Menghidupkan jiwa yang bebas, sebab malam telah mengukir segalanya. Dan kini aku menjelma menjadi malam. 

Aku masih sang rembulan. Aku pun malam. Menjadi dunia dalam gelap, dan aku punya cahaya untuk cita dan cinta yang tersesat. Bukalah jalan-jalan bersama harap, namun tak menyesatkan. 





@cdd20

Aku berjalan di atas hasrat. Ditunggangi. Kartu pilihan dipertaruhkan. Di antara rute ya dan tidak, aku memohon restu surga untuk dunia. Agaknya ini kan berhasil sebab ada surga di setiap langkahku. Sayang, tak ada pintu yang terbuka. Mungkinkah aku keliru mengambil kunci atau aku yang tak memiliki kunci itu? Namun, aku punya surga, mengapa tak kuasa? 

Itu bergema, berkisar sebagai awal dan akhir. Mula-mula aku menandai roman surga sebagai bentuk kemunafikan, suatu kemunduran, tapi aku hanya semakin melukai langkah-langkahku. Oh, restu surga, angkat kakilah untuk restu dirimu. 

Seakan terbuang. Menjadi sampah Karun, hasrat setiap mata. Itu berat. 

Aku menertawai lakonku, di tengah-tengah mereka. Kehendak. Ditunggangi. Aku sendiri menutup mataku dari napas yang dikehendaki. Di saat malam turun bersama kegelapan, semilir angin malam bersama dingin, bulan bersama bintang-bintang, dan aku sendiri menyembunyikan diri di dalam saku celanaku. 

Setidaknya, saat tak ada apapun di sampingku, aku masih memiliki diriku di dalam saku celanaku. Aku untuk diriku. Dan kala pagi turun, mentari memekik memaki jiwa-jiwa yang menuntut kebebasan atas kehendak. Sedang aku menutup mata dan telinga, 'oh pagi yang cerah, mari mencari santapan pagi.'

Aku untuk diriku. 

 




Di waktu fajar surya hadir bersama kehangatan, dan aku menatap dari balik pintu. Di waktu malam rembulan hadir bersama mimpi, dan aku menatap dari balik pintu. Lalu, di waktu petang, tinggal kerinduan yang saling merindu. Dan aku menutup mata. 

Segalanya adalah kekeliruan, walau ada damai dalam diam. Satu kekeliruan membuat kelu, walau masih ada damai. 

Kita satu di bawah nama harapan, duduk menatap dari balik pintu. Ada kebisingan dalam diam, sebab kerinduan yang saling merindu. Sayang berat hati, ini tak boleh jadi muara.

Suaraku tertahan, sebab aku menahan. Kau ingat bukan, bahwa suaraku yang telah membuka pintu kehangatan kala fajar menyembul? Namun, kau malah menyiulkan kesangsian untukku. Lantas, mengapa aku membuka pintu? 

Kita berpendar dalam permainan. Kau bersama wajah yang bersembunyi, sedang aku bersama wajah yang enggan dalam  abu-abu. Dan di tengah ruang, ego membakar dupa membuka duka. 

Kita sama-sama bermimpi untuk melangkah dalam kehangatan fajar. Aku melangkah untuk diriku, dan kau melangkah untuk dirimu. Padahal seharusnya tak begitu, bukan? 

Hari ini aku bersama pagi, petang, dan malam, membayangi mimpi yang menunggu bayang binar kehangatan datang menjemput. Dan kesabaranku nyaris luruh.

Namun, aku berhenti sejenak, kembali membuka lembar pikiran. Aku riang bergerak di atas pasir harapanku, bukan pasir harapan orang-orang yang berujar, 'Ini yang terbaik untukmu.' Lantas, mungkinkah itu diriku? 

 

Pixabay @cdd20

Satu kehidupan dalam kematian telah direnggut. Sosoknya berjalan. Lambat. Perlahan. Sesekali berhenti, tunduk dan bersujud. Kehidupan dan kematian tinggal dalam batas abu. 

Satu harapan tumbuh membayangi bayang maya. Harapan. Kosong. Antara hidup dan mati, berwajah biru dalam hening abu-abu. 

Sesekali menghadap pada langit memohon pelukan. Hangat. Bakar kesunyian, tinggal bara sangsi. Mari lanjut kalau tak ada pelukan. Semesta tengah bisu atau telinga tengah menutup diri dari kebisingan. 

Jadi datang lagi sepi. Tinggal diri, semu. Mungkin begitu juga di luar sana. Mereka hanya lincah menutup kekosongan. Hampa. Mereka jua. Setidaknya juang harap tak kosong.

Kendati cerita yang terjebak dalam garis kerutan, mereka ikut menua. Harap, hidup, mati, hak setengah jiwa. Mereka hitam dan putih.

Hanya kehangatan, melingkupi jiwa. Satu harapan yang tumbuh membayangi bayang maya. Berwajah biru bertopeng darah. Hidup tinggal satu, mati pun begitu. Harap dan hangat dalam secangkir teh di hari petang. 

Sosoknya berjalan. Satu kehidupan dalam kematian yang direnggut. Tak lagi tunduk dan bersujud. Cerita yang terjebak dalam kerutan wajah membebaskan diri. Kembali muda. Napas kini sedikit mudah. Kehidupan dan kematian masih dalam batas abu. 

Harap, hidup, dan mati berpencar dalam batas hijau. Belakangan batas kuning masuk ke dalam alur. Lantas sunyi jadi tak berkawan hampa. Napas semakin asik, jadi langkah berkawan waktu. Perlahan, tapi tak lambat. 

Kenyataan menjadi tegas di tiap torehan langkah. Perlahan-lahan. Waktu tak melarikan diri. Ritme hidup tak ada yang sama. Pada wajah biru atau hijau, sendu atau teduh, ritme hidup dan langkah adalah cerita dan waktu. 

Pixabay/cdd20

Suatu pagi yang baru, membawaku tuk benar-benar membuka mataku. Mula-mula ada satu titik buta di sudut pandangku. Namun, lambat laun, titik buta menjelma menjadi titik yang teramat nyata dalam pandanganku. Titik itu memicu debar jantung. Berdebar mengejar napas yang masuk membawa usaha kehidupan. 

Apa yang harus aku lakukan? Seketika pertanyaan itu memenuhi setiap sel di dalam kepalaku. Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan? Dalam kondisi ini bukan jawaban yang kudapat, melainkan tamparan keras. 

"Ada ketakutan di balik pertanyaanmu." 

Mataku menerawang jauh, kepala mengangguk secara perlahan sambil menikmati tamparan yang kudapat. Ya, itu benar adanya. Ada ketakutan juga kepanikan yang terselip dalam kesadaranku.

Aku takut jika harus berlutut di hadapan dunia. Aku takut jika dunia akan berpaling dariku. Aku takut jika dunia mencekik napas kehidupanku. Dan aku takut jika pada akhirnya aku harus melangkah tanpa alas kaki di atas jalan dunia ini. 

Ketakutan diam-diam menjadi hantu dalam dasar kesadaranku. Aku tak menyangka, ia berhasil lolos dan berdiam diri dalam alam bawah sadarku. 

Pada titik ini, tak perlu lagi mempertanyakan perkara langkah apa yang harus kuambil. Sebab, itu tak akan mampu menghadirkan waktu yang telah pergi membawa dirinya. Sekeras apa pun usaha yang kulakukan, waktu tak akan pernah kembali. 

Waktu memang tak akan pernah kembali, barang sedetik pun. Namun, waktu tak pergi begitu saja. Di setiap kepergiannya, ia selalu meninggalkan pelajaran berharga. Dan pelajaran itu tak akan pernah nampak jikalau waktu belum melafalkan ayat-ayat perpisahan.

Pada titik ini segalanya menjadi semakin jelas. Pertanyaan 'apa yang harus kulakukan,' telah pupus dalam keinsyafan. Lantas pelajaran apa yang bisa kuambil hadir menggantikan pertanyaan tersebut. 

Terkait waktu, aku akan berusaha dan belajar untuk hidup dalam napasnya. Sebab dengan begitu, aku akan belajar lebih banyak terkait perkara yang tersembunyi di sela-sela kesadaran dan ketidaksadaran. Dan kini, waktu membuka satu kotak rahasia untukku. Bahwasanya, pertemuan selalu datang bersama perpisahan. 

Dapatkah aku mengatakan bahwa tujuan dari pertemuan adalah untuk sebuah perpisahan? Maksudku, dengan begitu kita akan berusaha menghargai setiap detik waktu yang kita lewati bersama orang-orang yang berada di sekitar kita.

Saat kita sadar bahwa perpisahan dapat hadir kapan saja merenggut ruang waktu kita bersama setiap orang yang kita sayangi, aku yakin, setiap orang akan berupaya untuk melewatkan setiap momen itu dengan baik dan bijak. Sehingga saat waktu perpisahan itu tiba, tak akan ada gerutu kesal atau hati yang terluka, melainkan hanya momen-momen bahagia yang menggantung dalam rekam memori kehidupan. 



 


Bagaimana perasaanmu? Aku mendapatimu tengah berdiri menatap senjata yang selama ini kau sembunyikan dalam hatimu. Aku mendengar ledakan tangisan, tapi dari mana tangisan itu? Apa kau menyembunyikan tangisan di dalam hatimu juga? Oh, kutahu, pasti itu sulit bagimu. Sebab ini adalah yang pertama dalam sejarahmu. 

Kau sejauh ini berjas sejarah maha dewa. Aku yakin, kau pasti tak tahu rasanya mengenakan jas yang hampir kehilangan raganya. Dan itu wajar jika kini kau bertingkah menang padahal tengah berlutut. Dalam satu hentakan, ingin aku mengasihi juga menghajarimu. Oh, kasih, namamu telah pupus dalam radar permainan ini. 

Bukalah matamu. Menutup mata hanya semakin membutakan arah pengertian. Buka juga jas maha dewamu itu. Di hadapanku itu hanya semakin menegaskan bahwa kau tak sanggup menggenggam napas kehidupanmu. Aku tak terbuai oleh apa-apa yang kau kenakan, aku menatap lurus pada matamu. Bukalah matamu, dan pejamkan sementara mata-mata yang kau sisipkan di setiap sela raga dan mayamu. 

Bukalah matamu. Ini hanya permainan, bukan pertandingan. Tak ada kemenangan dan kekalahan di sini. Permainan ini hanya sekedar mengajakmu mengekspresikan dirimu, membuatmu berkembang dengan keberanian, dan membuatmu tertawa dengan tangan terbuka. Sekali lagi, tak ada menang dan kalah. Jika kau merasa menemukan menang dan kalah dalam permainan ini, maka itu hanya sekedar proyeksi dari dirimu. 

Bukalah matamu. Di sini semua orang berdiri dalam radar mereka. Tak ada satu atau berapapun orang yang berdiri dalam radarmu. Kau berdiri dalam radarmu. Kau, dan hanya dirimu. Begitu pun diriku juga mereka. Kami berdiri dalam radar yang kami miliki. Segala bentuk kedekatan ini hanya dalam artian raga yang berdiri dan jarak yang mempertegas keberadaan setiap orang. Maka berhentilah bersikap seakan kami berdiri dan hidup dalam radarmu. 

Bagaimana perasaanmu? Kau terlalu keras pada dirimu. Aku tahu bahwa jejak lalumu yang sebenarnya membawamu pada kiblat perasaan dan pemikiranmu. Namun, jejak lalu itu telah hilang ditelan pergerakan alam. Kau kini adalah dirimu yang sekarang, kau berdiri di atas ragamu, bukan jejak lalumu. Jejakmu itu tak berarti apa-apa, ia tak lain hanyalah petunjuk bahwa kau telah melangkah. Jejakmu tak hadir untuk menentukan siapa dirimu di masa kini. Siapa dirimu sekarang ada dalam pilihanmu sekarang. Bukan jejak lalumu. 

Sebenarnya tak masalah kau mengenakan jas maha dewa itu dan segala macam nama yang menghiasimu. Namun, peluk juga dirimu. Biarkan segala bentuk penghargaan itu memelukmu, bukan sebaliknya. Kau hidup untuk dirimu, bukan untuk penghargaan yang kau sembunyikan dalam hatimu. 

Dan untuk yang terakhir kalinya, di sini, kau tak menang juga tak kalah. 


 


Petang telah tiba. Sebentar lagi malam kan turun dari peraduannya. Ini sudah waktunya untuk menutup gerbang dan pintu yang menyembunyikan ruang di dalamnya. Ruang akal, ruang jiwa, ruang mata, ruang telinga, ruang rasa, begitu pula dengan ruang-mu. Semuanya harus segera menggenggam induk kunci, sebelum malam turun bersama gelapanya. Sebelum aku menjatuhkan tangan tuk menerka memicu rekah tanpa arah. Ini yang terbaik. 

Padahal malam belum benar-benar beranjak dari peraduannya, tapi gelap perlahan nampak menyelimuti kenangan yang menggantung di sudut-sudut ruang hati. Separuh diri jadi gundah, pikiran dengan cekatan melafalkan ayat-ayat penerang, menyiraminya dengan mimpi dan cita-cita. 'Kau masih amat belia, biarlah perasaan dan harapan menguap menjadi uap kesadaran.'

Ya, ini masih amat belia. Di luar sana langit petang masih terbentang megah. Bersama awan yang berjalan penuh ketabahan, dalam gerak pasti, petang kan tenggelam tatkala langit malam beranjak pasang. Malam pun bukan akhir dari suatu perjalanan, masih ada fajar yang kan hadir membawa langkah baru. Begitu pula dengan semua pintu ruang yang kututup. Aku menutup untuk menyingkap ruang baru lainnya.

'Akhir' hanyalah sebuah kata yang dibubuhi sayap ketakutan untuk membunuh kelahiran langkah-langkah baru. Akhir tak pernah benar-benar eksis dalam napas yang kita hirup. Pikiran kitalah yang memainkan peran kehidupan 'akhir' itu. 

Maka, mari kita menghitung mundur. Tak lama lagi malam kan duduk di kursi kebesarannya. Bersama bintang dan rembulan yang turut mewarnai gelapnya malam. Aku suka menonton atraksi di langit malam. Kupikir tak masalah jika aku sejenak membuka jendela dunia ini, agar mata kian akrab dengan langit malam. 



Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

POPULAR POSTS

Categories

  • Goresan Sebelah Mata
  • Jejak Cupid
  • Kilas Balik dalam Langkah
  • Puisi
Diberdayakan oleh Blogger

Laporkan Penyalahgunaan

Search This Blog

Blog Archive

  • Maret 2025 (1)
  • Februari 2025 (1)
  • Maret 2024 (1)
  • Februari 2024 (1)
  • Oktober 2023 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juli 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Mei 2023 (1)
  • April 2023 (1)
  • Maret 2023 (1)
  • Januari 2023 (1)
  • Desember 2022 (1)
  • November 2022 (1)
  • Oktober 2022 (1)
  • September 2022 (2)
  • Agustus 2022 (2)
  • Juli 2022 (1)
  • Juni 2022 (3)
  • April 2022 (1)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (2)
  • Januari 2022 (1)
  • November 2021 (1)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (3)
  • Agustus 2021 (2)
  • Juli 2021 (5)
  • Juni 2021 (5)
  • Mei 2021 (2)

Social Plugin

Home Contact Us About Us Privacy Policy

Tentang Saya

Foto saya
Bukan siapa-siapa, hanya seseorang yang awam dalam banyak hal. Tidak sedang mengajari siapa-siapa. Hanya menumpahkan apa yang tak sempat diceritakan
Lihat profil lengkapku

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Translate

Copyright © Ichadiass. Designed by OddThemes